Sumsel Maju Untuk Semua
Peserta Midang Bebuke Morge Siwe di Kabupaten Ogan Komering Ilir tahun 2019. (foto : sumateranews.co.id)
Peserta Midang Bebuke Morge Siwe di Kabupaten Ogan Komering Ilir tahun 2019. (foto : sumateranews.co.id)

Tradisi Midang Tetap Lestari dan Terus Dikembangkan

InilahSumsel.com, Ogan Komering Ilir — Masyarakat Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), memiliki tradisi yang menarik dalam merayakan lebaran Idul Fitri. Tradisi itu diberi nama Midang Bebuke Morge Siwe.

Tradisi Midang Bebuke Morge Siwe dapat diartikan sebagai kegiatan arak-arakan dengan berjalan kaki menggunakan pakaian pengantin sebagai sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Kayuagung dan dilaksanakan tiga atau empat hari setelah hari Raya Idul Fitri di setiap tahunnya.

Awalnya, Midang ini dimulai pada abat ke 16, yang merupakan persyaratan untuk menjemput mempelai perempuan yang dilakukan oleh mempelai laki-laki. Hingga kini, adat tersebut terus mengalami perkembangan hingga di tahun 1954, dilaksanakanlah Midang Bebuke Morge Siwe.

Midang Morge Siwe adalah satu dari rangkaian adat pernikahan Mabang Handak (Burung Putih) masyarakat Kayuagung pada waktu itu dan merupakan pernikahan dalam adat yang tertinggi di Morge Siwe atau Sembilan Marga. Marga itu yakni Kayuagung Asli, Perigi, Kutaraya, Kedaton, Korte (sekarang Jua-Jua), Sidakersa, Mangunjaya, Paku, dan Sukadana.

Baca Juga  Wabup OKI Apresiasi Gerak Cepat Gubernur Sumsel Antisipasi Karhutla
ekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKI, H. Husin, S.Pd., M.M., berfoto bersama peserta Midang Bebuke Morge Siwe tahun 2019. (foto : radarsriwijaya.com)
Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKI, H. Husin, S.Pd., M.M., berfoto bersama peserta Midang Bebuke Morge Siwe tahun 2019. (foto : radarsriwijaya.com)

Tahun ini, tradisi Midang Bebuke Morge Siwe diikuti oleh ribuan peserta dari 11 kelurahan yang terdapat di kecamatan Kayuagung dengan menggunakan 14 macam pakaian adat pernikahan. Selama dua ahri, mereka memadati jalan-jalan protokol dan menyeberangi Sungai Komering melalui jembatan yang menghubungkan Kelurahan Kotaraya dengan Kelurahan Mangun Jaya dan berakhir di Pendopoan Rumah Dinas (Rumdin) Bupati OKI dan ditutup dengan iringan dari pemusik tanjidor.

Kegiatan Midang di hari ketiga lebaran Idul Fitri 1440 Hijriah tahun 2019, diikuti oleh Kelurahan Sidakersa, Jua-Jua, Tanjung Rancing, Kayuagung Asli, dan Kota Raya. Sedangkan di hari ke empat yakni Sabtu tanggal 09 Juni 2019, diikuti oleh Kelurahan Kedaton, Cinta Raja, Mangunjaya, Paku, Sukadana, dan Kelurahan Perigi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten OKI, Ir. Ifna Nurlela, menjelaskan bahwa saat ini Midang masih menjadi salah satu adat budaya yang bertahan dan dilestarikan di OKI.

“Adat arak-arakan ini, sudah sejak lama dilakukan. Para pelakukanya adalah muda-mudi dalam kelurahan. Dahulu, Midang ini dilakukan oleh muda-mudi yang kelurahannya ada hajatan pernikahan. Kemudian, untuk melestarikannya, dikembangkan menjadi agenda tahunan pariwisata, tepatnya di setiap lebaran.” ujarnya.

Baca Juga  Bupati OKI Sambut Baik Keberadaan SMSI Sumsel

Sementara itu, Bupati OKI, H. Iskandar, S.E., melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) OKI, H. Husin, S.Pd., M.M., mengatakan bahwa pihaknya sangat konsen dalam mendukung tradisi Midang sebagai warisan tradisi budaya leluhur yang sangat mahal nilai karakteristiknya.

“Tradisi ini merupakan aset budaya yang sangat diperhatikan, disamping tradisi lainnya di Kabupaten OKI. Kondisi Midang, sampai saat ini masih sangat lestari dan terjaga, bahkan berkembang menjadi wisata budaya.” jelasnya. (ohs/detiksumsel.com/morgesiwe.com)

Cucian Motor Bekisar Merah

About Redaksi InilahSumsel.com

Redaksi InilahSumsel.com
Jln. TPH Sofyan Kenawas RT. 16 RW. 05 Kel. Gandus Kec. Gandus Kota Palembang. E-mail : redaksiinilahsumsel2018@gmail.com. Facebook : InilahSumsel.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *