Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan
Muba Maju Berjaya
Hari Widodo, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. (foto : IST)
Hari Widodo, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. (foto : IST)

Meski Pandemi, Harga Barang dan Jasa di Sumsel Masih Terkendali

Hari Widodo, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. (foto : IST)
Hari Widodo, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. (foto : IST)

InilahSumsel.com, PALEMBANG — Dari hasil pemantauan terhadap perkembangan harga barang dan jasa yang tercermin dari laju inflasi, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tercatat mampu mengendalikan harga barang dan jasa pada bulan Februari 2021.

Diketahui, berdasarkan data yang di realese oleh Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumsel, secara bulanan Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumsel pada bulan Februari 2021 mengalami deflasi sebesar -0,08 persen (mtm). Dimana realisasi deflasi pada bulan ini terutama bersumber dari penurunan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

“Secara tahunan, Sumsel mencatatkan inflasi sebesar 1,01 persen (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,37 persen. Realisasi inflasi ini juga lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional dan regional Sumatera yang masing-masing tercatat sebesar 1,38 persen (yoy) dan 1,44 persen (yoy),” kata. Hari Widodo selaku  Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel dalam laporannya, hari Jumat tanggal 26 Maret 2021.

Dijelaskan Hari Widodo, kelompok makanan, minuman, dan tembakau, mengalami deflasi sebesar -0,57 persen (mtm) dengan andil sebesar -0,57 persen (mtm). Deflasi tersebut didorong oleh penurunan harga subkelompok makanan terutama cabai merah, daging ayam ras, dan  telur ayam ras.

Baca Juga  Herman Deru Launching Aplikasi Belanja Online Sumsel Mall

“Harga cabai merah pada bulan Februari 2021 mengalami penurunan rata-rata sebesar 6,85 persen, sementara daging dan telur ayam ras masing-masing mengalami penurunan rata-rata sebesar 4,18 persen dan 4.20 persen.” ungkapnya.

Diterangkannya, penurunan daging dan telur ayam ras tersebut ditengarai adanya permintaan di tengah normalisasi produksi pasca berakhirnya kebijakan culling dan cutting progam Kementerian Pertanian.

“Kementerian Pertanian memperpanjang kebijakan tersebut hingga 6 Maret 2021. Kita berharap perpanjangan ini mampu menekan proyeksi surplus pasokan di bulan Februari 2021 dan menjaga kestabilan harga daging dan telur ayam ras di kisaran Rp19 ribu hingga Rp. 21 ribu per kilogram.” terangnya.

Kendati demikian, ungkap sosok yang akrab disapa dengan panggilan Hari itu, laju deflasi provinsi tertahan di komoditas bawang merah yang mengalami kenaikan akibat berakhirnya musim panen pada Februari lalu. Serta didorong dengan lajunya masa panan, faktor cuaca dan lain sebagainya.

“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga tercatat deflasi, pada bulan berjalan mengalami deflasi sebesar -0,69 persen dengan andil -0,18 persen (mtm) atau menurun dari bulan sebelumya sebesar 1,39 persen (mtm) dengan andil 0,36 persen.” imbuhnya.

Baca Juga  Operasional Pelabuhan Laut Tanjung Api-Api Akhirnya Diresmikan

Ditambahkan Hari, kenaikan harga pada kelompok perumahan, air, litrik, gas dan bahan bakar rumah tangga menahan laju deflasi. Kelompok ini tercatat inflasi sebesar 0,31 persen (mtm) dengan sumbangan inflasi sebesar 0,06 persen yang bersumber dari peningkatan harga sewa rumah yang berlangsung sejak Januari 2021.

“Secara spasial, pada bulan Maret 2021 deflasi terjadi di kota sample IHK yaitu Kota Palembang dan Kota Lubuklinggau. Kota Palembang tercatat -0,08 persen (mtm) dan Kota Lubuklinggau tercatat deflasi sebesar -0,10 persen (mtm).” ucapnya. (*)